<rss version="2.0" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:trackback="http://madskills.com/public/xml/rss/module/trackback/">
    <channel>
        <title>WCS Indonesia</title> 
        <link>https://indonesia.wcs.org</link> 
        <description>RSS feeds for WCS Indonesia</description> 
        <ttl>60</ttl> <item>
    <comments>https://indonesia.wcs.org/en-us/Stories-From-The-Field/Articles/ID/23617/Di-Antara-Gulai-Kepala-Ikan-Gulai-Kambing-Serta-Cerita-Hebat-Tarmizi-dan-Kawan-kawan-Sebuah-Catatan-Ringan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://indonesia.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=23862&amp;ModuleID=51813&amp;ArticleID=23617</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://indonesia.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=23617&amp;PortalID=137&amp;TabID=23862</trackback:ping> 
    <title>Di Antara Gulai Kepala Ikan, Gulai Kambing, Serta Cerita Hebat Tarmizi dan Kawan-kawan: Sebuah Catatan Ringan</title> 
    <link>https://indonesia.wcs.org/en-us/Stories-From-The-Field/Articles/ID/23617/Di-Antara-Gulai-Kepala-Ikan-Gulai-Kambing-Serta-Cerita-Hebat-Tarmizi-dan-Kawan-kawan-Sebuah-Catatan-Ringan.aspx</link> 
    <description>Selalu ada alasan untuk ke Medan


Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, alasan saya untuk menyambangi Tim WCS di Medan kali ini sangat sederhana. Jika sebelumnya kedatangan saya selalu berurusan dengan penandatanganan kerjasama, menghadiri rapat dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), atau menemani tamu-tamu penting, kali ini saya hanya ingin bertemu dengan Tim untuk mendengarkan cerita-cerita mereka dan menyampaikan harapan-harapan saya. Cukup lama juga saya tidak bertemu mereka. Terakhir saya datang hampir empat tahun silam, saat menemai Pak Joe Walston dan tamu-tamu penting lain meninjau berbagai program konservasi kita di TNGL.

Saya memang punya banyak alasan untuk ke Medan. Di kota inilah WCS merintis dan membangun Program Leuser yang kemudian menjadi program konservasi terbesar dan terkuat kita di Indonesia. Sudah 17 tahun kita berkerja dan berkarya di bentang alam Leuser dan selama rentang waktu itu sudah banyak cerita yang kita rangkai, mulai dari yang membanggakan, mengembirakan, hingga yang memprihatinkan dan membuat dahi berkerenyit. Akan tetapi, alasan saya untuk datang ke Medan tidak pernah untuk kedua alasan terakhir itu, karena program kita di Leuser dan orang-orang hebat yang mendukungnya adalah cerita penuh inspirasi tentang kerja keras dan kesetiaan terhadap misi WCS di negeri ini.

Catatan ringan ini adalah ungkapan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh Tim WCS di Medan yang mengoperasikan kerja-kerja konservasi kita di Bentang Alam Leuser. Namanya juga catatan ringan, sehingga tidak akan ada hal teknis dan substantif yang saya tuliskan. Saya hanya ingin bercerita tentang rasa sukur, bangga, dan harapan dalam menjaga harimau, gajah, orangutan, dan rangkong gading yang tersampaikan saat menikmati gulai kepala ikan dan gulai kambing dengan kopi kawan Sidikalang di antaranya!

Antara Medan &amp;amp; Tapaktuan


Selain bertemu dengan Tim, sebenarnya ada alasan lain yang sangat berarti bagi kunjungan saya kali ini. Ada &amp;lsquo;sosok&amp;rsquo; penting yang ingin saya jumpai, tidak di Medan, tetapi berada 360 km jauhnya dari sana. Sekitar empat tahun yang lalu, Musir, yang menjadi salah satu garda terdepan WCS melindungi harimau sumatera, berkabar bahwa ia dan istrinya sedang menanti kelahiran bayi perempuan untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Musir meminta ijin untuk menamakan bayi yang sedang dikandung itu sama dengan nama saya. Menurut banyak orang, nama adalah doa, dan doa Musir beserta istrinya adalah agar bayi perempuan mereka bisa menjadi orang yang meyakini bahwa alam ini harus bisa memberikan ruang bagi semua bentuk kehidupan. Pada 14 Februari 2020, bayi perempuan yang ditunggupun hadir, sehingga ada Noviar Andayani di dalam keluarga mereka. Yani kecil adalah alasan bermakna perjalanan menembus jajaran Bukit Barisan antara Medan dan Tapaktuan, kota terdekat menuju rumah Musir di selatan kota.

Perjalanan dari Medan menuju Tapaktuan dimulai pada pukul 6 pagi. Hari itu Kamis 5 September 2024, dan jalanan di Medan masih basah oleh hujan dari malam sebelumnya. Pagi yang sedikit mendung tidak menurunkan semangat dan keriaan untuk memulai perjalanan panjang yang diperkirakan memakan waktu antara tujuh hingga delapan jam dengan mobil. Ternyata saya dan Tim baru tiba di tujuan setelah 14 jam meninggalkan Medan. Keterlambatan itu baiknya bukan disebabkan oleh kemacetan atau jalan rusak, melainkan kami sempatkan untuk menikmati berbagai hal yang memang patut dinikmati sepanjang perjalanan. Yang tak terlupakan adalah sarapan pagi dengan gulai kambing di Restoran Terang Bulan, Bandarbaru. Tidak heran, Tarmizi, yang menjadi komandan WCS di Program Leuser, menghabiskan semangkuk gulai seorang diri. Saya sebenarnya bukan penggemar kambing, akan tetapi gulai kambing di tempat itu memang sangat sayang untuk dilewatkan.



Alasan lain keterlambatan kami adalah Subussalam. Kota kecil itu menjadi basis kerja-kerja konservasi WCS di Aceh Selatan dan Singkil. Kami singgah cukup lama di sana untuk berbincang berbagai hal, mulai dari lele yang diambil masyarakat dari kawasan Suaka Margasatwa (SM) Singkil hingga hubungan musim barat dengan frekuensi interaksi negatif harimau dan manusia. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan yang baik itu untuk mengulang pesan yang saya sampaikan di Kantor Medan bahwa Dodo, Dian, Kardi, Rahmadi, Musir, Romi, Fajar, Bahrul, Reza, dan semua yang saya temui namun tidak dapat saya tuliskan namanya satu persatu adalah garda terdepan misi WCS di Leuser.

Kekuatan narasi yang kita bangun tentang menjaga dan melindungi harimau dan hidupanliar lainnya di bentang alam itu adalah hasil kerja keras dan dedikasi mereka. Saya juga menyampaikan harapan (bukan instruksi, tentunya) agar mereka rajin menuliskan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan saat menjalankan misi WCS, karena pengalaman yang direkam melalui tulisan adalah pengetahuan, dan pengetahuan yang saling diceritakan dapat menjadi inspirasi.

Belajar dari Tepi Rawa Singkil


Catatan ringan ini dimulai dengan banyak alasan untuk ke Medan dan keinginan saya untuk menjelajahi SM Singkil adalah salah satunya. Medan memang gerbang yang lebih dekat ke sana ketimbang Banda Aceh. Kami menuju Singkil dalam perjalanan pulang setelah tinggal sehari di Tapaktuan. Meskipun hanya sebentar, saya bersukur berkesempatan berjumpa dan berbincang dengan tokoh-tokoh masyarakat di Desa Panton Luas yang berada di atas kota pinggir pantai itu. Letak geografis Tapaktuan memang unik. Kota itu adalah jajaran permukiman sepanjang teluk yang menghadap ke Lautan India dan langsung membelakangi Bukit Barisan. Dapat dibayangkan, perjalanan ke Panton Luas adalah pengalaman indah memanjakan mata yang menghadirkan belantara Bukit Barisan di depan dan Lautan India di belakang dengan Tapaktuan di antaranya.

Kami tidak dapat tinggal terlalu lama di Panton Luas karena ada janji bertemu Bu Fitri, kepala Bidang Wilayah Pengelolaan I, Taman Nasional Gunung Leuser yang berkantor di Tapaktuan. Selain itu ada kewajiban sholat Jumat yang menunggu Tarmizi dan kawan-kawan.

Meskipun singkat saya belajar banyak tentang Panton Luas melalui perbincangan dengan Pak Kecik, Pak Ketua Adat, Ketua KSM Rimueng Aulia, dan anggota desa lainnya. Saya belajar tentang kerendahan hati hidup di antara kelebatan hutan dan hidupanliar yang dapat mengancam nyawa mereka. Di desa ini Musir kehilangan abangnya. Saya juga belajar tentang harapan-harapan mereka.

Kami meninggalkan Tapaktuan pada Sabtu pagi, 7 September 2024. Musir dan kawan-kawan membekali kami dengan nasi gurih yang kami nikmati di pinggir pantai menuju Rawa Singkil. Tidak banyak yang saya ingat dari tempat sarapan itu, kecuali pondok-pondoknya yang dicat merah jambu dan lagu batak yang tiba-tiba diputar pemilik pondok dengan kerasnya. Mungkin beliau melihat pelat &amp;ldquo;BK&amp;rdquo; mobil kami atau memang beliau berasal dari sana mengingat Kabupaten Aceh Selatan dan Singkil berbatasan dengan Kabupaten Dairi di Sumatera Utara. Kami melanjutkan perjalanan diiringi lagu yang kami tidak tahu judul dan artinya.

Tiga jam kemudian kami sudah berada di jalan yang membelah SM Singkil dan menampakkan pohon-pohon sawit yang menjadi ancaman utama bagi integritas ekosistem rawa gambut terluas di Propinsi Aceh itu. Di simpang tiga sebelum kawasan, Kardi dan Rahmadi menunggu kami. Dari mereka saya belajar tentang sawit yang ditanam dari tepi jalan hingga 200-meter ke arah batas kawasan. Terkadang lebar kebun bisa mencapai 1 km juga.

Pembangunan jalan Buluhsema-Singkil memang menjadi pemicu perluasan kebun sawit milik masyarakat. Mereka juga bercerita tentang pohon tualang yang menjadi tempat idaman lebah hutan untuk bersarang dan menghasilkan madu. Pohon itu berdiri tinggi dan sendiri di antara batang-batang pohon yang ditebas untuk memberi jalan kepada sawit. Ada rasa haru melihat tualang yang seolah menolak untuk di-sawit-kan dan memuat pesan bahwa hutan sesungguhnya adalah penjamin kehidupan.


Rencana awal kami untuk mengelilingi rawa pupus oleh kabar putusnya sejumlah jembatan antara Buluhsema dan Singkil. Kami berhenti di titik yang tidak mungkin lagi dilalui oleh mobil dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju sepotong jalan di dalam kawasan yang diapit oleh laut di kedua sisinya. Menurut Kardi potongan jalan itu hanya berjarak sekitar 2km dari tempat mobil berhenti. Sayangnya, perjalanan kami juga terhenti sebelum sampai di tujuan karena tidak ada sisa jembatan yang bisa kami seberangi. Kekecewaan saya terobati karena berpapasan dengan sepasang rangkong papan yang melintas terbang ke dalam hutan. Lebih dari itu karena saya berjalan bersama Tim yang menjadikan WCS kekuatan konservasi terhormat di bentang alam yang luar biasa ini.

Semua orang punya cerita


Catatan ringan ini saya tuliskan untuk meyakinkan Tarmizi dan kawan-kawan bahwa cerita mereka pasti lebih hebat dan lebih seru untuk diceritakan dibandingkan cerita saya. Sebagai garda terdepan misi WCS memperjuangkan ruang dan hak hidup bagi berbagai ragam kehidupan, mereka senantiasa berada di tengah pengalaman dan petualangan seru yang tidak bisa dialami semua orang. Alangkah sayangnya jika keseruan itu tidak bisa dibagi dengan orang lain, apalagi menjadi inspirasi untuk bersama-sama menjaga harimau dan kawan-kawannya. Menuliskan pengalaman dan pemikiran yang menyertainya tidak boleh menjadi kendala, apapun alasannya. Saya percaya bahwa pengalaman dan pemikiran yang dituliskan adalah pengetahuan, dan pengetahuan yang diamalkan akan menuai kebaikan melampaui ruang dan waktu.

Saya ingin menutup catatan ringan ini dengan membagikan cerita seru tentang pernikahan Sudiro, beberapa tahun yang lalu. Dodo yang menyeritakannya ke saya sewaktu kami berjalan menyusuri tepi Rawa Singkil. Yang seru dan menarik dari cerita itu adalah bagaimana teman-teman WRU Leuser menyalakan mercon yang biasa mereka gunakan untuk mengusir gajah sewaktu mengarak Sudiro menuju rumah mempelai wanita. Dodo bilang kalau di Angkatan Laut ada tradisi pedang pora, maka di WRU ada tradisi menyalakan mercon dan meriam bambu. Hati saya menjadi hangat mendengar cerita itu &amp;ndash; di dalam keseruan dan mungkin sedikit kekonyolan yang mereka lakukan ada kesetiakawanan dan kesetiaan terhadap WCS dan misi kita.
</description> 
    <dc:creator>Camsyah, Akmal</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 24 Sep 2024 08:07:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:23617</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://indonesia.wcs.org/en-us/Stories-From-The-Field/Articles/ID/19360/Karimunjawa-National-Park-A-Personal-Notes-and-Reflection-to-One-of-The-WCS-Longest-Field-Program-in-Indonesia.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://indonesia.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=23862&amp;ModuleID=51813&amp;ArticleID=19360</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://indonesia.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=19360&amp;PortalID=137&amp;TabID=23862</trackback:ping> 
    <title>Karimunjawa National Park: A Personal Notes and Reflection to One of The WCS’  Longest Field Program in Indonesia</title> 
    <link>https://indonesia.wcs.org/en-us/Stories-From-The-Field/Articles/ID/19360/Karimunjawa-National-Park-A-Personal-Notes-and-Reflection-to-One-of-The-WCS-Longest-Field-Program-in-Indonesia.aspx</link> 
    <description>By Dr. Noviar Andayani, M.Sc.&amp;nbsp;

Country Director of WCS Indonesia Program

&amp;nbsp;

&amp;nbsp;



&amp;nbsp;

Off we go!

I always wanted to visit Karimunjawa National Park (KNP) since day one I joined the WCS Indonesia Program back in 2003. My reason was some kind of personal &amp;ndash; I visited the park many years ago right after I came home from my study in Sweden. Other than a rough sea journey that lasted for more than 6 hours, I still had a vivid picture in my mind of the park&amp;rsquo;s crystal blue and clear water. Never crossed my mind that one day I would be part of a talented team who dedicated their lives to protect this beautiful marine park. Still, it took me 20 years before I revisited KNP and witnessed the great works our team has been doing over those years.

We arrived at Karimunjawa at around 11 am after a smooth 2 hours ferry drive on the Bahari Express. The ferry was packed with visitors who took advantage of the long holiday weekend from the Eid Adha Festival that fell on Thursday of the 29th of June this year. It was very different from my first trip, but the excitement was the same if not more this time.

Part of the excitement came from how well known our colleague, Jamal, among the locals. They greeted him warmly as we made our way out of the seaport. I felt like celebrity walking beside him. He has been with WCS for many years, starting as an enumerator who helped us collecting data on fishing activities from the waters around the national park. Now, Jamal is our lead who works with the Park to support communities in tourism and empowerment programs that do not only bring economic benefit, but also protect the reef ecosystem and marine diversity of KNP.





Our day one in Karimunjawa was closed by a dinner under the island&amp;rsquo;s night sky. It was a lovely evening with a full moon and bright stars, a magical transformation from a perfect sun down we witnessed a few hours earlier in Tanjung Gelam at the west point of the island. Day one was also about the story of Ibu Dian and Pak Udin, two KNP&amp;rsquo;s staff, who monitored the impacts of tourism onthe park&amp;rsquo;s ecosystem. The tourism industry has been significantly increasing up to 300% (before Covid-19 pandemic) within the past 10ish years with the number of daily visitors during weekend were around 500-800 people and could reach to 1,000 people during holiday seasons such as this.

Our team has been working with KNP and tourism association to develop a sustainable business model that could deliver social, economical, and ecological benefits to the people of Karimunjawa. Pak Udin&amp;rsquo;s story about fishers who carefully brought turtles&amp;rsquo; eggs to his semi-natural hatchery in Menjangan Kecil Island is a heartening evidence of this concept. Two species of turtles, green sea turtle (Chelonia mydas) and hawksbill sea turtle (Eretmochelys imbricata), lay their eggs along the beaches of many islands within KNP. In the past, people poached their eggs and put the turtles&amp;rsquo;population in decline. Today, they collect the eggs they find and bring them into Pak Udin&amp;rsquo;s hatchery to be cared for until those eggs successfully hatch into turtles hatchlings and ready to be released to the sea. Visitors can take part of the release program for ten thousand rupiah for one turtle hatchlings. The money is shared for conservation program and community.

Small and nimble: meet our Team!

Protected areas have been our key approach to conserve Indonesia&amp;rsquo;s incredible biodiversity. As a strong supporter for the theory of island biogeography, I believe the larger space we give to biodiversity is the better, and island is the best ecological model to demonstrate this paradigm. But, this theory was not one of the reasons we decided to build a marine conservation program in KNP. The park is just over one hundred thousand hectares and was badly troubled by muroami fishing when we started working there twenty years ago.

Muroami fishing, also known as reef hunting, is one of the most destructive form of illegal fishing that has long lasting destructive impacts to the reef ecosystem. Also, the non-discriminate practises meant that fishes of all sizes, ages, and species were caught unsustainably. We worked with the KNP and community leaders to address this problem, spending many hours, days, months, and years building the trust and partnership to find alternatives to muroami. At the core of our works is sound science, and at the heart of our engagement is our talented team!



After twenty years of working tirelessly, muroami is now gone from KNP and the fishers transformed their fishing fleets into tourist boats. Hundreds of visitors come to the park to enjoy it&amp;rsquo;s soft white sands and crystal blue water. They also come to admire the lively and colourful coral reef around many of the islands that make KNP so special. Jamal is now leading the Kj&amp;rsquo;s tour guide association as part of our strategies to make sure the growing tourism industry does not harm the park&amp;rsquo;s biodiversity and ecosystem.

Our twenty years of collaboration and partnership with the KNP and the islands&amp;rsquo; communities also has transformed the way the fishers catch the fishes. Not only now they abandoned muroami, but they also apply sustainability principles through the park&amp;rsquo;s zoning system and selective harvest practises. For these encouraging impacts, we have to thank Ripanto, our sustainable fisheries lead in KNP. In one of my chats with him, Ripanto told me that he planted various fruit trees in his garden, so that he could use his experiences with those trees to engage with the communities. I was amazed by his ingenuity and also grateful to his dedication to our mission. More than that, I also realized how fortunate I was to be part of his and Jamal&amp;rsquo;s stories for KNP, and stories of many other dedicated colleagues from Sabang to Morotai. As Jamal repeatedly said when we walked along the shore of KNP &amp;ndash; &amp;ldquo;WCS dong!&amp;rdquo;

At last!

Surely KNP is not only about Ripanto and Jamal. Most, if not all, our colleagues in the Marine Program have left their marks on this beautiful marine national park. During my early days when I just joined WCS, I often bumped into them, either on their way to KNP or just came back from one of the surveys. I had been wondering since those days why they were so committed to this not so large and not so popular park. At that time Bunaken was on top of the list for tourist destination, Raja Ampat was the mysterious paradise, and Sawu was a daring idea of creating 3.3 million hectares of marine protected area in Indonesia. All were within the coral triangle that harbours the richest coral reef system in the World. KNP was none of those! Yet, here we are for twenty years and counting, working and learning from this park and the people living there.





I have known long before I finally came to KNP that we have been doing well to support the park conserving one of the most intact coral reef ecosystem in the Java Sea. Still, I could not help feeling very proud when I heard from Pak Saleh, oneof the well-respected community leaders in Karimunjawa, about the great things we have done. His remarks were then echoed by our KNP&amp;rsquo;s friends who joined us in a dinner on the last day of my visit. Through our friendly conversation on that evening I could somehow picture how we started everything twenty years ago.

I could picture how Irfan, Tasrif, Yudi, Rizya, Rian, Sinta, Epong, Atik, and Ratih built our vision for KNP. I am truly grateful for the solid foundation they have laid for us to continue our works there. Although we now only have a small team in KNP, with Sukma, Ripanto, and Jamal, but they are the marvel of our force. Through their passion and commitment, I could see and experience what it means to be part of WCS&amp;rsquo; mission in this part of our great country.





&amp;ldquo;We Stand For Wildlife&amp;rdquo;&amp;nbsp;
</description> 
    <dc:creator>Pratama, Randi</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 18 Jul 2023 05:00:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:19360</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://indonesia.wcs.org/en-us/Stories-From-The-Field/Articles/ID/19361/Mitigasi-Konflik-Pengalaman-Aceh-Dalam-Konflik-Manusia-Harimau.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://indonesia.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=23862&amp;ModuleID=51813&amp;ArticleID=19361</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://indonesia.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=19361&amp;PortalID=137&amp;TabID=23862</trackback:ping> 
    <title>Mitigasi Konflik Pengalaman Aceh Dalam Konflik Manusia-Harimau</title> 
    <link>https://indonesia.wcs.org/en-us/Stories-From-The-Field/Articles/ID/19361/Mitigasi-Konflik-Pengalaman-Aceh-Dalam-Konflik-Manusia-Harimau.aspx</link> 
    <description>By Musir Riswan

&amp;nbsp;



Istilah konflik antara manusia dengan harimau agaknya belum familiar di kalangan masyarakat Aceh. Masyarakat lebih akrab dengan istilah bahasa Aceh rimeung sawue gampong, maupun rimeung pajoh leumo, keubeu, atau kameng. Artinya, harimau mengunjungi desa, maupun harimau memakan sapi, kerbau, atau kambing.

Istilah itu menyiratkan nuansa kearifan lokal yang berkembang di beberapa desa, terutama di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Bila ada ternak yang dimangsa harimau, warga memandangnya sebagai bagian dari zakat harta tertentu yang wajib dikeluarkan kaum muslim. Dalam konteks lokal ini, harimau dinilai sebagai perantara dalam penyucian harta, yang mungkin pemilik ternak lupa membayar zakat kepada golongan yang berhak.

Tak heran, jika terjadi konflik, warga cenderung meresponnya dengan ritual kearifan lokal. Di beberapa desa, warga mengenal orang yang bisa berkomunikasi secara spiritual dengan harimau. Masyarakat mengganggap, jika sudah berkomunikasi dengan harimau, sang pemangsa ini akan menghindar dari permukiman atau kebun.



Namun, hasil &amp;lsquo;mitigasi&amp;rsquo; seturut tradisi ini tidak ada durasi waktu yang pasti. Alhasil, tak jarang timbul pertanyaan apakah harimau akan kembali lagi di lain waktu? Terkadang, setelah ritual, tanda-tanda kehadiran harimau tidak terdeteksi sampai berbulan-bulan. Namun, tak jarang pula, dalam hitungan pekan usai ritual, harimau kembali menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Singkat kisah, tak ada yang bisa menjamin harimau tidak akan berkeliaran lagi di seputar permukiman.

Bila begitu, respon secara spiritual itu nampaknya tidak bisa menjamin konflik telah redam. Namun, upaya mitigasi harus tetap melestarikan kearifan lokal dan hubungan emosional masyarakat dengan hidupan liar. Ini terutama bagi masyarakat yang tempat tinggalnya menjadi titik rawan konflik. Hubungan emosional ini dapat memperkaya mitigasi jangka panjang karena telah menjadi pengetahuan masyarakat dalam mengelola konflik.

Pada saat yang sama, hubungan emosional juga dapat menjadi pintu masuk bagi mitigasi yang tidak sekadar mencegah konflik, namun juga mendorong masyarakat hidup adaptif. Harapannya, dengan pendekatan ini masyarakat tidak lagi memandang hidup berdampingan dengan harimau sebagai konflik. Tapi, warga memandangnya sebagai interaksi yang wajar karena tinggal di sekitar hutan habitat harimau.

Pada hakikatnya, interaksi negatif dapat dihindari bila konflik tidak menimbulkan kerugian. Dalam konteks ini, yang terjadi sebenarnya hanya sebatas &amp;lsquo;perjumpaan&amp;rsquo; dengan harimau, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ada sejumlah teknik untuk mengidentifikasi keberadaan harimau yang berkonflik, entah dengan mengendus jejak, cakaran, ataupun memasang kamera intai di jalur harimau. Untuk mengenali tanda-tanda harimau tentu memerlukan ketelitian dalam mengamati temuan di lapangan.

Jejak harimau yang lengkap dan utuh dapat mengabarkan informasi tentang kesehatan si harimau. Bila harimau terluka jerat sling misalnya, jejaknya terlihat pincang dan tidak utuh.



Sementara itu, identifikasi dengan kamera intai memerlukan informasi awal yang memadai. Beberapa informasi dari warga di daerah konflik terkait dengan lokasi, waktu, dan intensitas kemunculan si harimau. Data awal ini menjadi acuan dalam menentukan lokasi pemasangan kamera intai.

Kamera intai akan tetap terpasang sampai ada informasi ditemukannya tanda-tanda keberadaan harimau. Jika tidak ada informasi, kamera intai dapat tetap terpasang maksimal satu bulan lantaran baterai dan memori kamera harus diganti. Salah satu penyebab borosnya baterai: kamera terlalu sering merekam pergerakan manusia di permukiman.



Pada malam hari, warga perlu meronda daerah yang rawan munculnya harimau. Upaya ini bisa dilakukan berkelompok dengan memakai lampu penerang dan alat-alat yang bisa menghasilkan suara lantang&amp;mdash;seperti kentongan. Aktivitas seperti ini akan membuat harimau risih dan tidak nyaman berada di dekat permukiman.

Selain monitoring, masyarakat terdampak konflik juga perlu diberi pemahaman tentang perilaku harimau dan kiat-kiat mengelola konflik. Di beberapa desa, pemahaman seperti ini sangat dibutuhkan. Apalagi jika konflik telah menelan korban jiwa.



Dalam situasi seperti itu, biasanya warga antusias mendengarkan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini dapat menjadi media kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai mitigasi konflik dan pelestarian hidupan liar. Peningkatan kesadaran diharapkan dapat mencegah ekskalasi konflik, sehingga dapat menghindari jatuhnya korban di kedua belah pihak, baik manusia maupun harimau sumatra.

&amp;nbsp;
</description> 
    <dc:creator>Pratama, Randi</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Jul 2023 17:11:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:19361</guid> 
    
</item>

    </channel>
</rss>